Selasa, 22 Oktober 2019

Setulus Hati Membersamai




“Mencintai diam, itu bukan aku. Mencintai dalam diam, itu bukan caraku. Sebab dalam diam tidak ada upaya mengupayakan. Tidak ada keberanian dalam mewujudkan. Hanya untuk mereka yang ragu, hanya untuk mereka yang semu. Maaf bukan maksud untuk meremehkan mereka yang mencintai dalam diam. Tapi bagiku, bahasa diam adalah bahasa menunggu. Apalagi untuk seorang lelaki, bahasa diam adalah bahasa ragu. Jadi, jangan mencintai dalam diam, cintailah ia dalam sebuah tindakan.”

Satu bulan mengenal, lalu memutuskan menikah bukan sesuatu yang mudah, tapi tidak juga disimpulkan kami tergesa-gesa. Semua dilalui dengan ikhlas, dan terkadang juga ada tangis air mata. November bulan dimana  kami di pertemukan, tapi saat itu aku merasa belum siap dan masih banyak pertimbangan. Sementara tawaran perkenalanpun berlalu begitu saja. Tidak sering aku memang mengintip instagramnya, mengikuti perjalanan storynya. Tapi aku belum follow balik, karena lagi lagi masih banyak pertimbangan. Sampai akhirnya Desember, entah bagaimana aku merasa yakin bahwa dia memang serius, bukan sekedar hanya ingin mengenal, atau hanya penasaran. Dia belum pernah mengenalku, bahkan melihat foto pun tidak. Dia benar-benar mencariku dengan usahanya sendiri, dan menemukanku hanya melalui Instagram.
Desember, adalah bulan dimana Allah memudahkan segalanya, Allah seperti menjawab pintaku sebelum-sebelumnya. Dimana aku pernah meminta "satu hari dibulan Desember." Benar-benar Allah tak pernah ingkar janji dalam mengabulkan doa. Dia datang ke rumah memintaku pada ayah. Seminggu berikutnya setelah berdiskusi sana sini, melakukan penyelidikan terhadap lingkungan tempat tinggalnya, ayah mengiyakan. Kemudian Ayah berkata kepadaku saat itu
“Maka nanti jika ada lelaki yang datang melamar anakku, yang pertama kali aku seleksi adalah, dimana tadi dia sholat shubuh? kalau dijawab, "di rumah" Maka kukatakan: "Maaf aku tidak bisa menikahkan anakku dengan orang yang tidak sempurna kelaki-lakiannya, karena lelaki shalih pasti shalat berjamaah dimasjid, sedangkan lelaki shalihah shalat dirumah." Ucap ayah.
Iya, Ini bukan sebuah kode atau sesuatu yang harus di cie ciein. Tapi ini tentang ilmu yang perlu diperhatikan. Berapa banyak di antara kita kini yang jarang sekali melihat tentang kesungguhan seorang laki-laki yang mau datang untuk sholat di masjid ketika shubuh.
"Jika kamu ingin melihat kesungguhan seorang laki-laki lihatlah ia ketika sholat berjamaah shubuh di masjid. Karna akan jarang kau temui laki-laki yag bersungguh-sungguh mendatangi Rabbnya dalam keadaan masih banyak manusia yag terlelap."Ayahku menambahkan.
 Kemudian timbulah pertanyaan random dalam pikiranku,
"Bagaimana jika ia masih awam dalam hal agama?"
Dengan bijaksana ayah berkata,
"Orang yang berilmu itu banyak. Orang yang agamanya pandai juga banyak, tapi orang yang berkomitmen terhadap Rabbnya itu yang sedikit. Banyak yang pandai agamanya tapi terkadang buruk dalam akhlaknya. Berbeda jika ia baik akhlaknya, Insya Allah ia akan paham ilmu agama dan penerapannya meski itu bertahap."
"Bagaimana jika nanti menantu ayah masih berproses? "
"Kita tidak bisa menolak sesuatu yang ditakdirkan oleh Allah. Sesuatu yang menurut kita buruk belum tentu menurut Allah. Bisa jadi Allah punya rencana yang lain. Agar kita bisa menjadi kawannya dalam berhijrah."
"Sesederhana itu yah?"
Dan ayah hanya tersenyum. Ayah, seorang laki-laki yang hemat berbicara. Dari sini aku belajar banyak hal, tentang besarnya rasa sayang seorang ayah pada anak perempuannya, tentang mempersiapkan hati orang tua yang akan ditinggalkan anak perempuannya juga tentang bahwa kita tak bisa bergantung pada siapapun bahkan sekalipun dia orang terdekat kita. Secepat itu di awal perkenalan, dimana aku semakin yakin bahwa dia memang serius, meskipun sebelumnya dia sama sekali tidak mengenalku, bahkan hidup kami pun tidak bersinggungan. Dia mengajakku masuk ke hidupnya, di kenalkan pada keluarga dan rekannya adalah proses yang juga tak terlewatkan. Aku wanita yang suka bercerita, dan dia si introvert yang senang mendengarkan. Dari sinilah awal kecocokan itu barangkali saling menemukan. Dan ini ku rasa jadi salah satu hal penting yang bisa kita lihat dari bagaimana keseriusan seseorang.
Tibalah akad, yang menjadi moment luar biasa sekali bagiku. Barangkali karena malaikat berkumpul saat itu suasananya benar-benar sakral sekali. Dia juga lancar mengucapkan akad. Alhamdulillaah.
Bila hari ini, 6 bulan perjalanan menikah semuanya masih dalam tahap adaptasi, kami benar-benar dua orang yang tidak mengenal sebelumnya, dua orang dengan karakter yang berbeda, tidak mudah tapi kami bersyukur menjalani amanah ini. Terkadang sampai menangis bila melangitkan doa, sebab Allah demikian baiknya kepada kami, mengizinkan kami mengemban amanah ini, sebagai istri yang setiap detiknya bisa bernilai pahala di sisi Allaah, demikian pula untuknya, suami.
Kelak kita akan mengerti bahwa ada banyak sekali kebaikan dari kesabaran yang telah kita upayakan. Allaah mengabulkan doa doa melebihi pinta kita. Allah tidak pernah ingkar janji. Allah akan selalu karuniakan yang terbaik. Seseorang yang tidak pernah aku sangka arah datangnya, benar-benar tidak pernah ku duga. Seseorang yang baik hatinya seluas samudera. Seseorang yang sabarnya mengalahkan amarahnya. Seseorang yang menerimaku, yang berusaha tidak menuntutku, yang memintaku untuk tetap menjadi diriku sendiri meskipun karakter kami berbeda. Dia baik atas karunia Allaah, dan saya bersyukur atasnya. Setulus hati, membersamai karena berharap ridha Allaah.
Menuliskannya.


 
Aisya's Note Blogger Template by Ipietoon Blogger Template