“Mencintai
diam, itu bukan aku. Mencintai dalam diam, itu bukan caraku. Sebab dalam diam
tidak ada upaya mengupayakan. Tidak ada keberanian dalam mewujudkan. Hanya untuk
mereka yang ragu, hanya untuk mereka yang semu. Maaf bukan maksud untuk
meremehkan mereka yang mencintai dalam diam. Tapi bagiku, bahasa diam adalah
bahasa menunggu. Apalagi untuk seorang lelaki, bahasa diam adalah bahasa ragu. Jadi,
jangan mencintai dalam diam, cintailah ia dalam sebuah tindakan.”
Satu bulan mengenal, lalu memutuskan menikah
bukan sesuatu yang mudah, tapi tidak juga disimpulkan kami tergesa-gesa. Semua
dilalui dengan ikhlas, dan terkadang juga ada tangis air mata. November bulan dimana kami di pertemukan, tapi saat itu aku merasa
belum siap dan masih banyak pertimbangan. Sementara tawaran perkenalanpun
berlalu begitu saja. Tidak sering
aku memang mengintip instagramnya, mengikuti perjalanan storynya. Tapi aku
belum follow balik, karena lagi lagi masih banyak pertimbangan. Sampai akhirnya Desember, entah bagaimana aku merasa
yakin bahwa dia memang serius, bukan sekedar hanya ingin mengenal, atau hanya
penasaran. Dia belum pernah mengenalku, bahkan melihat foto pun tidak. Dia
benar-benar mencariku dengan usahanya sendiri, dan menemukanku hanya melalui
Instagram.
Desember, adalah bulan dimana Allah memudahkan
segalanya, Allah seperti menjawab pintaku sebelum-sebelumnya. Dimana aku pernah
meminta "satu hari dibulan Desember." Benar-benar Allah tak pernah
ingkar janji dalam mengabulkan doa. Dia datang ke rumah memintaku pada ayah. Seminggu
berikutnya setelah berdiskusi sana sini, melakukan penyelidikan terhadap
lingkungan tempat tinggalnya, ayah mengiyakan. Kemudian Ayah berkata kepadaku saat
itu
“Maka nanti jika ada lelaki yang datang melamar anakku, yang
pertama kali aku seleksi adalah, dimana tadi dia sholat shubuh? kalau dijawab,
"di rumah" Maka kukatakan: "Maaf aku tidak bisa menikahkan
anakku dengan orang yang tidak sempurna kelaki-lakiannya, karena lelaki shalih
pasti shalat berjamaah dimasjid, sedangkan lelaki shalihah shalat dirumah."
Ucap ayah.
Iya, Ini bukan sebuah kode atau sesuatu yang harus di cie
ciein. Tapi ini tentang ilmu yang perlu diperhatikan. Berapa banyak di antara
kita kini yang jarang sekali melihat tentang kesungguhan seorang laki-laki yang
mau datang untuk sholat di masjid ketika shubuh.
"Jika kamu ingin melihat kesungguhan seorang laki-laki
lihatlah ia ketika sholat berjamaah shubuh di masjid. Karna akan jarang kau
temui laki-laki yag bersungguh-sungguh mendatangi Rabbnya dalam keadaan masih
banyak manusia yag terlelap."Ayahku menambahkan.
Kemudian timbulah
pertanyaan random dalam pikiranku,
"Bagaimana jika ia masih awam dalam hal agama?"
Dengan bijaksana ayah berkata,
"Orang yang berilmu itu banyak. Orang yang agamanya
pandai juga banyak, tapi orang yang berkomitmen terhadap Rabbnya itu yang
sedikit. Banyak yang pandai agamanya tapi terkadang buruk dalam akhlaknya.
Berbeda jika ia baik akhlaknya, Insya Allah ia akan paham ilmu agama dan
penerapannya meski itu bertahap."
"Bagaimana jika nanti menantu ayah masih berproses?
"
"Kita tidak bisa menolak sesuatu yang ditakdirkan oleh
Allah. Sesuatu yang menurut kita buruk belum tentu menurut Allah. Bisa jadi
Allah punya rencana yang lain. Agar kita bisa menjadi kawannya dalam
berhijrah."
"Sesederhana itu yah?"
Dan ayah hanya tersenyum. Ayah, seorang
laki-laki yang hemat berbicara. Dari sini aku belajar banyak hal,
tentang besarnya rasa sayang seorang ayah pada anak perempuannya, tentang
mempersiapkan hati orang tua yang akan ditinggalkan anak perempuannya juga
tentang bahwa kita tak bisa bergantung pada siapapun bahkan sekalipun dia orang
terdekat kita. Secepat itu di awal perkenalan, dimana aku semakin yakin bahwa dia
memang serius, meskipun sebelumnya dia sama sekali tidak mengenalku, bahkan
hidup kami pun tidak bersinggungan. Dia mengajakku masuk ke hidupnya, di kenalkan pada
keluarga dan rekannya adalah proses yang juga tak terlewatkan. Aku wanita yang
suka bercerita, dan dia si introvert yang senang mendengarkan. Dari sinilah
awal kecocokan itu barangkali saling menemukan. Dan ini ku rasa jadi salah satu
hal penting yang bisa kita lihat dari bagaimana keseriusan seseorang.
Tibalah akad, yang menjadi moment luar biasa
sekali bagiku. Barangkali karena malaikat berkumpul saat itu suasananya
benar-benar sakral sekali. Dia juga lancar mengucapkan akad. Alhamdulillaah.
Bila hari ini, 6 bulan perjalanan menikah semuanya masih
dalam tahap adaptasi, kami benar-benar dua orang yang tidak mengenal
sebelumnya, dua orang dengan karakter yang berbeda, tidak mudah tapi kami
bersyukur menjalani amanah ini. Terkadang sampai menangis bila melangitkan doa,
sebab Allah demikian baiknya kepada kami, mengizinkan kami mengemban amanah
ini, sebagai istri yang setiap detiknya bisa bernilai pahala di sisi Allaah,
demikian pula untuknya, suami.
Kelak kita akan mengerti bahwa ada banyak sekali kebaikan
dari kesabaran yang telah kita upayakan. Allaah mengabulkan doa doa melebihi
pinta kita. Allah tidak pernah ingkar janji. Allah akan selalu karuniakan yang
terbaik. Seseorang yang tidak
pernah aku sangka arah datangnya, benar-benar tidak pernah ku duga. Seseorang
yang baik hatinya seluas samudera. Seseorang yang sabarnya mengalahkan
amarahnya. Seseorang yang menerimaku, yang berusaha tidak menuntutku, yang
memintaku untuk tetap menjadi diriku sendiri meskipun karakter kami berbeda.
Dia baik atas karunia Allaah, dan saya bersyukur atasnya. Setulus hati, membersamai karena berharap ridha Allaah.
Menuliskannya.